Dansatgab Gelar Sosialisasi Penertiban KJA Waduk Jatiluhur

Peristiwa Purwakarta

Dansatgab Gelar Sosialisasi Penertiban Kolam Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur di Tiga Desa

Purwakarta Zuritnews – Selasa 12 Juni 2024 Komandan Satuan Tugas Gabungan (Dansatgab) Citarum Harum Kolonel CZI Bambang Prasetyo SE menggelar Rapat Sosialisas terkait penertiban Kolam Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur.

Rapat Sosialisasi Penertiban KJA tahun 2024 ini dilaksanakan dan di pusatkan di Aula Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta, ini dihadiri oleh berbagai pihak terkait, termasuk perwakilan dari Perwakilan PJT II, Kapolsek, Camat, Danramil, Diskanak, Kepala Desa Kembang Kuning, Cibinong, Jatimekar, dan petani lokal, dan kalangan pengusaha di 3 Desa.

Dalam rapat tersebut, Dansatgab Kolomel CZI Bangbang Prosetyo SE menekankan pentingnya penertiban KJA di Waduk Jatiluhur untuk menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem waduk. Beliau menyampaikan bahwa jumlah KJA di waduk saat ini telah melebihi batas daya dukung, sehingga berpotensi menimbulkan pencemaran air dan kerusakan habitat ikan.

Sosialisasi penertiban KJA akan difokuskan di Tiga Desa, yaitu Desa Kembang Kuning, Jatimekar dan Cibinong. di ketiga desa tersebut, terdapat beberapa jumlah KJA yang akan ditertibkan 20 Persen bagi kalangan pengusaha dan 10 Persen bagi petani lokal yang tersebar di waduk Jatiluhur.

Baca Juga :  Program"Beras Welas Asih", Upaya Membangun Ketahanan Pangan

Dansatgab Kolonel CZI Bambang Prasetyo menghimbau kepada para pemilik KJA di Tiga Desa tersebut untuk segera dilakukan pemotongan KJA mereka sebelum dilakukan penertiban oleh Satgab Citarum Harum. Beliau juga menyampaikan bahwa Satgag Citarum Harum akan memberikan edukasi dan pemaparan pemahaman kepada para pemilik KJA yang akan dilakukan penertiban dan yang terdampak penertiban.

Komandan Satuan Tugas Gabungan (Dansatgab) Citarum Harum menegaskan bahwa penertiban Keramba Jaring Apung (KJA) di wilayah waduk dan danau dilakukan untuk memulihkan kembali kualitas air yang sudah memprihatinkan.

“Penertiban KJA ini bukan untuk mematikan usaha masyarakat, tetapi demi menyelamatkan lingkungan dan memulihkan kualitas air yang sudah sangat memprihatinkan,” jelas Nya

Bambang Prasetyo SE menjelaskan bahwa KJA yang berlebihan telah menjadi salah satu sumber pencemaran air utama di waduk dan danau. Sisa pakan ikan, kotoran ternak, dan bahan kimia dari obat-obatan yang digunakan dalam budidaya ikan KJA dapat mencemari air dan membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem air.

Baca Juga :  Ketua Apdesi Kabupaten Purwakarta Menegaskan Komitmennya untuk Integritas dan Transparansi

“Air waduk dan danau ini adalah sumber air baku bagi masyarakat. Jika kualitas airnya tercemar, maka akan berakibat fatal bagi kesehatan masyarakat,” tegas Bambang Prasetyo.

Perwakilan dari PJT II, Wilayah IV Rahmat menyatakan kesiapannya untuk mendukung penuh upaya penertiban KJA di Waduk Jatiluhur. Beliau berharap dengan penertiban ini, kualitas air dan ekosistem waduk dapat pulih kembali.

Penertiban KJA di Waduk Jatiluhur merupakan salah satu langkah penting dalam upaya pelestarian lingkungan dan ekosistem waduk. Diharapkan dengan penertiban ini, Waduk Jatiluhur dapat kembali menjadi sumber air yang bersih dan lestari bagi masyarakat. Tutur Rahmat.

Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan) Kabupaten Purwakarta melalui Kabid Perikanan Budidaya Intan dan Kabid Perikanan Tangkap Fahmi.
menyatakan bahwa keberadaan Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Jatiluhur telah melebihi kapasitas yang ditentukan.

Baca Juga :  Pengerjaan Pengecoran Jalan Lingkungan Aspirasi Dewan Berjalan lancar

“Berdasarkan data sensus tahun 2024 jumlah KJA di Waduk Jatiluhur mencapai 46.494 petak, sedangkan daya dukung waduk hanya 11.306 petak,” Kabid Diskanak Purwakarta

Menjelaskan bahwa kelebihan kapasitas KJA ini dapat berakibat negatif terhadap kualitas air waduk, seperti pencemaran air, pendangkalan waduk, dan kerusakan ekosistem air.

“Pencemaran air akibat KJA ini dapat disebabkan oleh sisa pakan ikan, kotoran ternak, dan bahan kimia dari obat-obatan yang digunakan dalam budidaya ikan,” jelas Kabid Diskanak Intan

“Kerusakan ekosistem air akibat KJA ini dapat terjadi karena persaingan makanan dan ruang hidup antara ikan budidaya dan ikan liar,” ujar (DAUP HERLAMBANG)