KADIS KOMINFO PWK HENDRA FADLY SUPRATMAN Ke COPETAN, Acara Milangkala ke 1 thn Pasar Sasagaran Dangdeur.
PURWAKARTA ZURITNEWS.COM — Milangkala ke-1 Pasar Sasagaran Desa Dangdeur, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Minggu (27/9/2026), berlangsung meriah. Namun di tengah upaya menghidupkan kembali kuliner dan tradisi masyarakat Sunda, kenyamanan pengunjung justru terusik oleh aksi pencopetan.
Pasar Sasagaran yang dikelola Pemerintah Desa Dangdeur tersebut dihadiri Bupati Purwakarta Om Zein, Ketua APDESI sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD), serta Camat Bungursari, Kepala Desa. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pedagang tradisional di wilayah Kecamatan Bungursari untuk memasarkan berbagai makanan khas yang mulai sulit ditemukan di pasaran.
Tidak sekadar menjual makanan, Pasar Sasagaran juga mengangkat kembali cara memasak dan peralatan tradisional. Sejumlah pedagang masih menggunakan hawu, aseupan, boboko hingga batok sebagai bagian dari penyajian makanan.
Berbagai kuliner tradisional seperti awug, nasi liwet, surabi, surandil dan makanan khas lainnya disuguhkan kepada masyarakat.
Keberadaan pasar tersebut juga diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar, mulai dari membuka ruang usaha bagi pedagang hingga memberdayakan tenaga kerja lokal.
Acara semakin semarak dengan penampilan Ohang dan Ceu Piah yang membawa nuansa hiburan tradisional.
Namun, di balik kemeriahan milangkala tersebut, persoalan keamanan menjadi catatan serius.
Sejumlah pengunjung dilaporkan menjadi korban pencopetan. Bahkan, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Purwakarta, Hendra Fadly Supratman, S.E (Ucok) turut menjadi korban. Dua unit telepon selulernya dilaporkan hilang.
Bukan hanya itu, sejumlah pengunjung lainnya juga mengaku kehilangan dompet.
Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai sistem pengamanan pada kegiatan yang menghadirkan banyak pengunjung tersebut. Padatnya kerumunan seharusnya menjadi perhatian khusus bagi panitia maupun petugas keamanan untuk mengantisipasi aksi pencopetan.
Pasar Sasagaran sendiri merupakan pasar tetap yang mengusung konsep pelestarian kuliner tradisional sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat. Karena itu, aspek kenyamanan dan keamanan pengunjung menjadi bagian penting agar keberadaan pasar tersebut dapat terus berkembang.
Peristiwa pencopetan pada momentum milangkala pertama ini menjadi pekerjaan rumah bagi pengelola dan pihak terkait. Jangan sampai pasar yang dibangun untuk menghidupkan kembali tradisi dan ekonomi masyarakat justru membuat pengunjung merasa waswas ketika datang berbelanja.
Pengelola Pasar Sasagaran perlu mengevaluasi sistem pengamanan, terutama pada saat kegiatan yang mengundang pejabat dan masyarakat dalam jumlah besar, agar kejadian serupa tidak kembali terjadi pada kegiatan berikutnya.(DAUP HERLAMBANG)